Categories
Agribisnis

Langkah Mulus Ulus Raih Penghargaan FAO

Pendidikan boleh rendah karena keadaan tapi prestasi tetap mendunia. Itulah Ulus Pirmawan, petani hortikultura di Desa Suntenjaya, Kec. Lembang, Kab. Bandung Barat, Jabar.

Kegigihan mem bantu petani lepas dari jerat tengkulak dan kreativitasnya dalam budidaya pertanian ramah lingkungan sukses meng antarkan lulusan sekolah dasar ini me nerima penghargaan bergengsi sebagai Petani Teladan Se-Asia Pasifik dari Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO).

FAO Asia Pasifik membe rikan penghargaan kepada Ulus dan empat petani dari Afganistan, Jepang, Nepal, dan Thailand pada peringatan Hari Pangan Internasional di Kan tor Regional FAO di Bangkok, Thailand, Senin (16/10). “Alhamdulillah, semua ini tidak lepas dari du kungan semuanya,” ujar Ulus penuh syukur kepada AGRINA.

Pertanian Ramah Lingkungan

Berkat budidaya pertanian ramah lingkungan, ucap pria yang memperoleh penghargaan di bidang sektor pertanian terpadu dan pertanian ramah lingkungan ini, ia bersama kelompok taninya berhasil mengekspor buncis ke Singapura.

“Rata-rata sehari ada 1,5 ton baby buncis dan buncis super 500 kg untuk ekspor,” kata Ulus. Selain ekspor, Ketua Gapoktan Wargi Panggupay ini juga membantu petani memasarkan hasil panen hortikultura seperti bayam jepang, lettuce jepang, bit, brokoli, cabai, tomat, pisang ke Toko Tani Indonesia Center di Jakarta, pasar tradisional, dan pasar modern.

Gapoktannya terdiri dari enam kelompok tani yang masing-masing beranggotakan sekita 20 orang. Ulus sendiri menanam baby buncis, cabai, dan brokoli. “Penghasilan utama baby buncis karena setiap hari panen. Dari tanam biji sampai mulai panen, 40 hari. Masa panen itu bisa 60 hari. Panennya selang sehari jadi 30 kali panen itu bisa.

Setahun bisa 3 kali tanam buncis. Tapi, satu lahan bisa 6 item karena tumpang sari buncis dengan lettuce, sawi putih, brokoli, cabai, atau tomat,” papar pria kelahiran 16 Februari 1974 itu.

Preventif dan Represif

Ulus menjelaskan, pertanian ramah lingkungan ter diri dari dua aspek, yaitu preventif dan represif. Tindakan pencegahan perlu dilakukan dalam bertani karena lebih efektif dari segi kesehatan dan biaya.

Karena itu, ia menekankan petani untuk memperhatikan penentuan lahan, cara mengolah lahan, penggunaan pupuk dasar, dan pemilihan benih. Dalam pemilihan lahan, pastikan tidak ada pohon besar yang akan menutupi tanaman budidaya. “Cara pengolahan lahan harus paham karena keberhasilan pengusaha tani dimulai dari pengolahan lahan. Pertama, kita cangkul, rumput dijadikan pupuk, dan tanpa herbisida.

Lalu bersihkan lahan, baru pasang mulsa,” urainya. Pemupukan dasar dilakukan dengan kompos matang berwarna hitam. Nutrisi dari kompos seperti ini siap diserap akar. Setelah lahan bersih, buatlah lubang tanam dengan jarak yang sesuai. Berikutnya, gunakan benih yang baik karena tanam benih yang kurang bagus akan membuang-buang waktu, tenaga, dan biaya.

Aspek represif atau pengobatan terkait pengaruh faktor eksternal dalam budidaya, seperti serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), cuaca, dan lingkungan. “Dengan bertani yang baik dan benar sangat bisa menekan timbulnya serangan penyakit atau hama. Makanya kita harus menyiapkan nutrisi tanaman yang cukup dan sehat sehingga menghasilkan tanaman yang kuat dan sehat,” terang pria yang bertani sejak 2000 ini.

Kemudian, pestisida ramah lingkungan dapat dimanfaatkan untuk menanggulangi serangan OPT. Pestisida ramah ling kungan ini kelebihannya mudah dibuat dan murah, aman lingkungan, tidak menimbulkan residu, tidak resisten hama, dan menghasilkan produk pertanian yang sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *