Categories
Uncategorized

Harus Total Agar Bisa Panen Maksimal

Cita-cita meningkatkan gizi masyarakat melalui asupan protein yang murah berusaha diwujudkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui nasionalisasi program budidaya lele sistem bioflok. Sistem yang menerapkan teknologi tingkat tinggi ini mengiming-imingi budidaya lele irit pakan di lahan terbatas dengan padat tebar ultra-intensif.

Namun faktanya, ungkap Antien Delmawanti Hamzah, pemilik Del Catfish Farm, hampir 80% pemain bioflok gagal. “Sebagai salah satu pengembang bioflok, saya bisa berkata kebanyakan gagal. Karena bioflok tidak sesederhana itu,”terangnya saat ditemui AGRINA di Sekolah Tinggi Perikanan Pasarminggu, Jakarta (4/8). Apa yang menjadi kendala?

Program Lele Bioflok Sistem bioflok, ujar Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), merupakan suatu kegiatan usaha budidaya ikan lele menggunakan metode pemanfaatan gumpalan-gumpalan kecil (flok) yang tersusun dari sekumpulan mikroorganisme hidup yang melayang-layang di air. Sistem ini menjadi program unggulan yang ditujukan untuk ketahanan pangan.

Demi mencapai target besar tersebut, KKP telah menyiapkan 103 paket penunjang sistem bioflok dengan 72 paket di pusat dan 31 paket di Unit Pelayanan Teknis (UPT). Paket itu berupa 12 kolam berdiameter 3 m, benih 42 ribu ekor ukuran 8-9 cm, pakan sebanyak 3,2 – 4 ton, obat, probiotik, dan sarana prasarana operasional. Penerima bantuan berasal dari 12 kelompok masyarakat (pokdakan), dua lembaga pendidikan (SMA dan universitas), dan 73 lembaga keagamaan (pondok pesantren). Program ini diharapkan menghasilkan panen lele sebanyak 4,73 ton atau 14,1 ton/tahun. Dengan nilai produksi ikan sebanyak Rp212,63 juta/tahun PEMULA sebaiknya menebar 1.000 ekor/m3.

pada budidaya sistem bioflok dan biaya produksi 30%, diharapkan mendapat keuntungan Rp148 juta/tahun. “Bioflok ini suatu teknologi. Dengan teknologi ini akan mendapatkan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan kemudahan-kemudahan secara teknis,” imbuh Dirjen. Pria yang disapa Totok itu menambahkan, kunci kesuksesan budidaya lele bioflok adalah kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM), penggunaan benih berkualitas, dan mengikuti petunjuk budidaya yang ada.

Cerita dari Seberang Salah satu pembudidaya sukses versi KKP adalah Anwar yang sudah berbudidaya lele sejak 2012. Pada 2016, ia bercerita, Kelompok Pembudidaya Ikan Karya Mandiri di Balikpapan, Kaltim mendapat bantuan bioflok dari Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin DJPB – KKP.

Pria kelahiran Enrekang itu memaparkan, kelompoknya mendapat bantuan 8 kolam terpal dengan diameter 3 m. Menurut tim penyuluh yang mendampinginya, setiap kolam dapat diisi 4.000 ekor lele. Namun, Anwar baru mencoba 2.500 ekor/kolam dan hasilnya pun terlihat. Menurut Anwar, kalau menebar di bawah 10 ribu ekor per siklus untuk 8 kolam, jangan harap dapat untung. “Paling tidak tebar 20 ribu ekor per siklus per 8 kolam supaya da- pat untung dan stabil,” katanya.

Pada praktiknya, Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Karya Mandiri itu mengaku menghadapi beberapa kendala, seperti faktor alam. Menurut Anwar, saat musim pancaroba lele kerap terkena penyakit sirip merah dan jamur. “Kalau gerimis sedikit suka terkena penyakit. Mending hujan deras, biar buang racun sekalian,” jelas ayah tiga anak itu. Saat pelatihan, lelaki yang pernah berprofesi sebagai petani seledri itu diberi penjelasan tentang sistem bioflok yang targetnya memudahkan kontrol air. Tapi faktanya, pemain baru sistem bioflok masih kesulitan dalam penanganan air karena cepatnya kemunculan amonia. “Malah boros air,” komentarnya. Sedangkan untuk konversi pakan (feed conversion ratio–FCR), Anwar masih mendapat FCR 1. Kelompok Karya Mandiri rata-rata memanen lele sekitar 15 ton/siklus atau 2,5–3 ton/kolam/siklus. Si kumis dijual ukuran konsumsi yang isinya sebanyak 6-8 ekor/kg dengan harga Rp17 ribu/kg. Teknologi ala Mina Srikandi Antien menilai, bioflok merupakan teknik budidaya lele tingkat lanjut. Definisi bioflok menurut Bu Del, sapaan akrabnya, adalah filterisasi alami pada air dan flok yang terbentuk adalah bonus. Jadi, bioflok merupakan permainan air supaya ikan merasa nyaman dan bakteri yang digunakan membentuk flok sebagai bonus.

Lebih lanjut Sekretaris Jenderal Asosiasi Pembudidaya Lele Indonesia (Aplesi) itu menerangkan, sebanyak apa pun padat tebar lele, yang terpenting adalah stabilnya media atau perairan dalam kolam. “Banyak yang tertarik bioflok karena padat tebarnya. Sebenarnya faktor pendukung kesuksesan budidaya sistem bioflok itu sudah pasti SDM-nya. Minimal sudah paham tentang kualitas air dan benih. Terutama itu dulu,” jelasnya. Ia menyarankan para pemain pemula lele bioflok memulai dengan 3 padat tebar standar, sekitar 1.000 ekor/m . Selain itu, kualitas air wajib diperhatikan sebagai media hidup lele. Ada baiknya pembudidaya melakukan pengecekan awal kandungan mineral dalam air. Misalnya, jika menemukan kadar besi berlebih maka harus melakukan penyaringan atau filterisasi.

Air harus dalam kondisi stabil dengan tingkat keasaman (pH) berkisar antara 7-8. Sebenarnya pH 6 masih aman asalkan permainan bakterinya benar. “Harus heterogen dan pas,” anjur Antien. Kemampuan penggunaan bakteri inilah yang perlu diperhatikan. SDM yang telaten akan terbiasa menggunakan bakteri dengan takaran sesuai kebutuhan. Bahkan, ia kini memproduksi sendiri bakteri yang cocok menurut versinya.

Dalam sistem ini Antien juga menganjurkan penggunaan garam yang berfungsi untuk sterilisasi dan penyembuhan lele saat sakit. Jika terkena jamur, biasanya kumis lele akan copot atau sering DOK. Pribadi disebut lele keriting. “Gunakan garam agak banyak juga tidak apa-apa. Menurut saya salinitas 7 itu masih aman ketika lele sakit. Tapi, yang mati ya tetap mati,” jelasnya. Dolomit berperan sebagai penstabil pH dan molase untuk sumber makanan bakteri.

Kemudian yang tak kalah penting yaitu benih. Penggunaan varietas lele yang cocok sangat penting. Mina Srikandi Farm menggunakan lele mutiara untuk budidaya. Lele mutiara merupakan kepanjangan dari SLAMET SOEBJAKTO (kiri), target panen lele 1.452,3 ton/tahun ANWAR, masih menghadapi kendala BUDIDAYA lele bioflok Mina Srikandi mampu menghasilkan FCR 0,8 – “mutu tinggi tiada tara” yang dikembangkan Balai Penelitian Pemuliaan Ikan (BPPI) Sukamandi, Subang, Jabar.

Varietas ini diklaim memiliki keunggulan laju pertumbuhan tinggi, berkisar 10%-40% lebih cepat dari benih lain. Pemeliharaan singkat, keseragaman ukuran relatif, FCR rendah, berkisar 0,6-0,8 pada pende- deran dan 0,8-1,0 pada pembesaran, dan relatif tahan penyakit.

Menurut Bu Del, benih varietas lain pun bisa digunakan asal jelas asal-usulnya. Jika benihnya asalan, kolam bioflok akan jadi kolam pembantaian massal. “Kalau benih asal, bisa dilihat dua minggu pertama jumlah lele yang mati tidak kira-kira,” terang wanita asal Malang ini.

Indikator kesuksesan bioflok, sambungnya, minimal sudah bisa mendapat FCR 0,9. “Konvensional saja bisa FCR 1. Kita pakai teknologi, jadi harus lebih irit pakan dan dapat minimal 0,9,” tegas wanita yang berdomisili di Bogor itu. Harus diperhatikan juga pemberian pakan 80% kenyang atau 80% dari kebutuhan pakan maksimal.

Karena sudah ahli dan telaten menekuni bioflok, Antien mampu menghasilkan FCR 0,6. Bahkan, lele produksinya pun dibeli tengkulak dengan harga sedikit lebih tinggi dari harga pada umumnya di sekitar Jabodetabek, Rp17 ribu/kg karena diduga lebih sehat dan mengandung nutrisi lebih tinggi.

Bagi Antien, gagal tahap awal sistem bioflok merupakan hal yang wajar. Meskipun ada sebagian yang cepat berhasil, minimal pembudidaya butuh waktu 5 tahun belajar telaten sistem bioflok untuk bisa dikatakan bertahan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *